Beranda > Entrepreneurship > Kriteria Work Less Do More

Entrepreneurship

Aspek Unik

Kriteria Work Less Do More

Integritas Widya Pratama Dalam Mengolah Kopi Aroma

Kriteria Work Less Do More

Posted by Tisna Rudi. Selasa, 2 November 2010

Secara harfiah, work less do more artinya kerja lebih sedikit menyelesaikan lebih banyak, dengan lain kata meningkatkan produktifitas. Menurut Stever Robbins, penulis buku "Get-it-Done Guy’s 9 Steps to Work Less and Do More", ada 9 hal yang perlu dilakukan untuk mencapai work less do more. Kesembilan hal tersebut adalah:

1. Hidup Berdasarkan Tujuan (Live on purpose)

Tanpa ada tujuan mau kemana atau apa yang ingin dicapai, kita akan jadi ngelantur alias tidak produktif. Ada tujuan pun harus jelas dan realistik sehingga kita bisa mempersiapkan antisipasi segala kemungkinan halangan yang mungkin terjadi.

2. Hentikan Sikap Menunda-nunda (Stop procrastinating)

Kalau kita menginginkan suatu perubahan, jangan hanya berharap saja tanpa berbuat apa pun untuk mencapainya. Bagilah tujuan jangka panjang menjadi beberapa tujuan jangka pendek dan laksanakan setahap demi setahap. Ibarat Menabung atau mencicil sedikit demi sedikit untuk memperoleh jumlah besar.

3. Taklukkan Teknologi (Conquer technology)

Teknologi, selain bermanfaat jika digunakan selayaknya, juga sering disalahgunakan sehingga menjadi Kecanduan yang bisa menghambat produktivitas. Komputer bisa disalahgunakan untuk berlama-lama main game. Demikian pula halnya ponsel bisa disalahgunakan hanya untuk mengobrol lama-lama hal yang tidak penting.

Manfaatkanlah teknologi selayaknya dan seperlunya saja.

4. Tingkatkan Fokus (Cultivate focus)

Mengerjakan berbagai tugas yang berbeda-beda (multitasking) dapat mengalihkan atau mengganggu konsentrasi hingga akhirnya malah menjadi tidak efektif dan membuang waktu.

Sediakanlah waktu untuk fokus mengerjakan satu hal saja dan batasi diri dengan mengatakan "tidak" untuk menghentikan multitasking.

5. Biasakan Terorganisir (Stay organized)

Teroganisir artinya kita mengetahui dimana letak sesuatu hal atau kemana harus mencari ketika membutuhkannya. Teroganisir juga bukan hanya perihal benda atau berkas dokumen, tapi juga pikiran.

6. Jangan membuang-buang waktu (Don’t waste time)

Robbins menganjurkan aturan 80/20, yaitu suatu fenomena pola matematika yang pertamakali diidentifikasi oleh Pareto, ekonom italia. Richard Koch mendefinisikannya sebagai keadaan dimana suatu sebab, input atau upaya minoritas biasanya akan menuju ke suatu hasil, output atau ganjaran mayoritas.

Dengan kata lain, fokuskan upaya kita pada 20 persen aktivitas yang merupakan bagian terbesar/terpenting. Kerjakanlah apa yang paling banyak sesuai dengan tujuan bisnis anda.

7. Optimalisasi (Optimize)

Periksa ulang bagaimana kebiasaan kerja kita, apakah bisa diubah menjadi lebih baik, mintalah saran dari ahli untuk mengidentifikasi kelemahan cara kerja tidak efektif yang tidak kita ketahui.

8. Membina hubungan lebih kuat (Build stronger relationships)

Dengan bantuan teman atau rekan kerja, kita bisa mengerjakan lebih banyak daripada dikerjakan sendiri. Karena itu, terlebih dahulu bangunlah hubungan kuat dengan rekan.

9. Leverage

secara harfiah leverage artinya aksi tuas. Dalam fisika mekanika aksi tuas dapat mengangkat benda dengan tenaga lebih kecil. Dengan kata lain, maksud leverage disini adalah memperoleh hasil lebih tanpa harus menambah sumber/kerja, yaitu kemampuan meghasilkan nilai yang lebih dari biasanya dengan upaya sedikit. Misalnya membantu banyak orang dengan melakukan sekali upaya saja, atau menggunakan suatu hal yang bisa dipakai ulang.